Mengenang Detik-detik Penutupan Lokalisasi Dolly

d-Kudu Ngerti

01 Mei 2017
Mengenang Detik-detik Penutupan Lokalisasi Dolly

Salah satu wisma di Dolly yang ditutup oleh Satpol PP Kota Surabaya.

dollysaiki.com- Kegigihan dan tekad Wali Kota Tri Rismaharini menutup Dolly dan Jarak sebagai lokasi prostitusi pada tiga tahun lalu tidak bisa dilupakan begitu saja.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya Irvan Widyanto memiliki pengalaman yang mungkin seumur hidupnya tidak akan bisa dilupakan. Ia teringat ketika bersama Kepala Dinas Sosial Supomo menemui Wali Kota Risma terkait rencana pengalihfungsian Dolly dan Jarak.

"Hingga akhir hayat tidak bisa saya lupakan," ujar Irvan kepada wartawan di ruang Humas Kota Surabaya, Senin (1/5/2017).

Bagi Irvan, Wali Kota Risma telah mencambuk dirinya ketika dirinya dinilai ragu-ragu menutup Dolly dan Jarak.

"Saat itu Bu Wali ngendikan (bicara) begini, Van, jika awakmu ora wani, kene aku silihono pentungane satpol. Tak budal dewe," kata Irvan menirukan ucapan Wali Kota Risma saat itu.

Bak disambar petir di siang bolong, sebagai anak buah tentunya terpacu untuk semakin bersemangat. Irvan pun memimpin anak buahnya melakukan penertiban bersama polisi.

Saat itu, resiko yang dihadapi Satpol PP tidaklah ringan. Sebab para penentang penutupan Dolly dan Jarak mengancam akan menggeruduk Satpol PP.

"Bismillah, lahir batin saya siap menghadapi segala resiko yang harus kami tanggung demi mengembalikan masa depan anak-anak dan warga Dolly dan Jarak," katanya.

Tak lama kemudian, lokalisasi prostitusi itu pun ditutup. Meski begitu, Pemkot Surabaya tidak diam. Pengawasan dan pemberdayaan warga di eks lokalisasi terus dilakukan.

Salah satunya peran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ditingkatkan untuk memerangi praktik liar asusila yang disinyalir berpindah tempat atau dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

"Praktik prostitusi liar di kota-kota besar kita akui susah dibersihkan 100 persen. Tapi di Kota Surabaya, sesuai perintah Bu Wali (Wali Kota Tri Rismaharini), kita tidak berhenti, terus diberantas," tegas Kepala Satpol PP Kota Surabaya Irvan Widyanto di ruang Humas Pemkot Surabaya, Senin (1/5/2017).

Satpol PP telah membentuk tim khusus yang bergerak untuk memerangi peredaran PSK maupun aksi balapan liar. Jam operasional tim gabungan ini mulai Pk 23.00-Pk 05.00 Wib.

"Namanya Tim Asuhan Rembulan, gerilya di malam hari. Terdiri dari gabungan polisi, Dispora, Dinas Sosial, Satpol, Dishub, Linmas dan yang lainnya. Tim ini untuk mencegah sedini mungkin gangguan keamanan di malam hari dan peredaran PSK yang mencoba mencari mangsa di jalanan. Kita amankan jika ditemukan," jelas Irvan.

Irvan yang juga menjabat sebagai Plt BPD Linmas kota Surabaya tersebut menambahkan, tim asuhan rembulan juga melakukan penertiban segala macam gangguan ketertiban di tengah masyarakat. Salah satunya menangkal balap liar.

"Kini sudah hamper 6 bulan ini tidak lagi dijumpai ada balap liar. Kami juga bekerjasama dengan Polrestabes Surabaya untuk menindak pembalap liar. Bila tertangkap disarankan agar mereka menggunakan arena balapan yang disediakan Pemkot Surabaya di Gelora Bung Tomo Benowo," terang dia.

Tim Asuhan Rembulan ini, kata Irvan, terkoneksi dengan posko terpadu Command Center 112 yang berpusat di Gedung Siola.

"Kami koordinasi dengan command center 112. Jika ada laporan warga yang menghubungi 112, kami bergerak cepat ke lokasi. Targetnya tidak sampai 10 menit sudah tiba di lokasi dan menangani keluhan," kata dia.

Termasuk tak sedikit warga yang melaporkan adanya PSK yang mencoba masih mencari hidung belang di sejumlah tempat. Tim asuhan rembulan telah mengamankan sebanyak 40 PSK sejak periode Oktober 2016-Maret 2017.

"Jadi jangan sekali-sekali masih operasi di Surabaya, kami pasti amankan," tegas Irvan didampingi Kabag Humas M Fikser dan sejumlah camat yang lokasinya pada awalnya ada lokalisasinya.

Kota Surabaya sudah tidak lagi memiliki lokasi prostitusi. Dolly dan Jarak sudah lenyap sejak tiga tahun lalu. Kini kawasan di Kecamatan Sawahan itu sudah berubah, lebih bermartabat.

Pengalihfungsian kawasan itu tak bisa dipungkiri berkat sentuhan tangan dingin Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Tiga tahun lalu, Dolly dan Jarak secara resmi dilarang untuk lokalisasi prostitusi.

Tekanan dan perlawanan kepada Risma saat itu sangat besar. PSK dan mereka yang menggantungkan hidupnya dari lembah hitam itu memobilisasi kekuatan untuk menentang tekat Risma.

"Niat saya satu, yaitu menyelamatkan anak-anak dan masa depannya," kenang Risma saat ditemui di rumah dinasnya, Senin (1/5/2017).

Risma mengakui bahwa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik itu tidaklah mudah. Resiko dan tekanan cukup berat. Namun berlandaskan niat baik, Risma maju terus.

"Sekarang warga di Dolly dan Jarak sudah berdaya. Mulai bangkit, UMKM tumbuh, ketrampilan didapat. Dan yang terpenting anak-anak yang punya masa depat terselamatkan," kata Risma.

Selain Dolly dan Jarak, lokalisasi yang sudah 'ditutup' pada periode pertama Risma menjabat wali kota antara lain Tambak Asri (Kremil), Bangunsari, Moroseneng, dan Klakahrejo.

"Bila ada yang nggak suka aku nutup lokalisasi ya biarkan saja. Yang penting aku mempertanggungjawabkan di depan Tuhan YME kelak di akherat," kata Risma. (Sumber: detik.com)

Tinggalkan Komentar

Facebook

Twitter

Redaksi